0

Daerah itu bernama KOTA MUNGKID, my hometown.


SMA Negeri 1 Kota Mungkid merupakan sekolah saya, di sampignya terdapat SMP N 1 Kota Mungkid yang juga merupakan sekolah saya. 12 tahun saya bersekokah dengan berjalan kaki ke sana :)

SMA Negeri 1 Kota Mungkid merupakan sekolah saya, di sampignya terdapat SMP N 1 Kota Mungkid yang juga merupakan sekolah saya. 12 tahun saya bersekokah dengan berjalan kaki ke sana :)

Namanya jarang didengar orang. Mungkin khalayak akan lebih familiar apabila disodorkan nama Mungkid saja, atau Blabak tanpa ada embel-embel “kota” nya. Padahal actually, Kota Mungkid dan Mungkid pun sangat jauh berbeda. Mereka merupakan dua wilayah dengan kearifan lokalnya masing-masing. Walaupun memang lokasinya berdekatan.

Sering saya dicibir oleh teman-teman saya, “jangan sok kota deh kamu”. Hahaha, saya sering geli kalo nanggepin kata-kata mereka. Karena ya memang sebenarnya nama daerah saya Kota Mungkid. Bukan sekedar dikarang atau diberio embel-embel “kota” saja. Banyak teman-teman di sekolah saya yang berkata bahwa “Kota Mungkid,kota ning ndeso” yang berarti “Kota Mungkid, kota tapi desa”. Dan saya pun tidak mengelaknya, karena memang daerah Kota Mungkid merupakan daerah perdesaan. Kawasan perdesaan yang sangat asri dan elok. Yang menyebabkan saya sangat rindu untuk bisa kembali segera menghirup udaranya, menjajal trek aspal mulus yang sepi, menjajal trek lari di lapangan drh. Soepardi. Ahhh.. :)

Yak sudah panjang lebar, tapi percuma kalo belum tahu. Kota Mungkid merupakan ibu kota Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Tempat komplek candi super megah nangkring di salah satu sudut daerahnya. Kota Mungkid terletak sekitar ± 15 Km dari Kota Magelang, ± 30 Km dari Kota Yogyakarta, dan ± 95 Km dari Kota Semarang. Pusat kota berada di kelurahan Sawitan. Seluruh kantor dinas atau instansi Pemerintah Kabupaten Magelang berlokasi di sini. Bahkan, kantor-kantor milik pihak swasta juga ada di kota ini. Kota Mungkid berdiri sejak tanggal 22 Maret 1984 menggantikan Kota Magelang sebagai ibukota Kabupaten Magelang setelah Kota Magelang melepaskan diri dari bagian Kabupaten Magelang, menjadi sebuah kota administratif baru. Oleh karena itu, setiap tanggal 22 Maret diperingati oleh warga Kabupaten Magelang sebagai Hari Jadi Kota Mungkid. Padahal, Kabupaten Magelang sendiri tidak pernah memperingati hari jadinya karena tidak ada yang tahu sejak kapan Kabupaten Magelang berdiri. Banyak orang menyebut kota ini sebagai kota administratif dan kota alternatif. Kota Mungkid berada di jalur wisata menuju Candi Borobudur yang berjarak sekitar 4 Km dari pusat Kota Mungkid yaitu di kelurahan Sawitan.

Sejarah Kota Mungkid
Pasca kemerdekaan berdasarkan UU Nomor 22 Tahun 1948 Kota Magelang berstatus sebagai ibu kota Kabupaten Magelang. Namun berdasarkan UU Nomor 13 Tahun 1950, Kota Magelang berdiri sendiri sebagai daerah yang diberi hak untuk mengatur Rumah Tangga sendiri. Oleh karena itu, ada kebijakasanaan untuk memindahkan ibu kota Kabupaten Magelang ke daerah lain. Selain itu dasar pertimbangan lainnya adalah nantinya pemindahan Ibukota lebih berorientasi pada strategi pengembangan wilayah yang mampu menjadi stimulator bagi pertumbuhan dan perkembangan wilayah. Awalnya ada 4 alternatif Ibukota yang dipersiapkan yaitu kecamatan Mungkid, Muntilan, Secang dan Mertoyudan, akhirnya kecamatan Mertoyudan dan kecamatan Mungkid dengan pusat kota di kelurahan Sawitan terpilih untuk menjadi ibu kota Kabupaten Magelang dengan nama Kota Mungkid berdasarkan PP Nomor 21 Tahun1982. Peresmian Kota Mungkid dilakukan pada tanggal 22 Maret 1984 oleh Gubernur Jawa Tengah HM Ismail. Momentum inilah yang dipakai menjadi dasar Hari Jadi Kota Mungkid. Pada saat ini, di Kabupaten Magelang lebih dikenal adanya Hari Jadi Kota Mungkid dari pada Hari Jadi Kabupaten Magelang karena tanggal dan bulannya masih belum diketahui secara pasti maka tahun 1801 tidak ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Magelang.

Letak Geografis
Kota Mungkid terbagi atas 2 wilayah kecamatan yaitu kecamatan Mertoyudan bagian Selatan dan kecamatan Mungkid bagian Utara yang wilayahnya meliputi 7 kelurahan yaitu Blondo, Deyangan, Ngrajek, Pasuruhan, Rambeanak, Sawitan, dan Mendhut. Kota Mungkid berbatasan dengan Kecamatan Mertoyudan di sebelah Utara, Kecamatan Borobudur dan Kecamatan Kalibawang (Kabupaten Kulonprogo) di sebelah Barat, Kecamatan Muntilan di sebelah Selatan, Kecamatan Mungkid dan Kecamatan Sawangan di sebelah Timur. Jalan utama atau jalan protokol di wilayah Kota Mungkid meliputi Jl. Mayor Unus, Jl. Letnan Tukiyat dan Jl. Mayor Kusen. Pada tahun 2012, guna menghormati jasa para Pahlawan maka jalan-jalan di perkotaan Kabupaten Magelang akan diganti. Termasuk di wilayah Kota Mungkid dan Muntilan. Untuk jalan di Kota Mungkid yaitu Jl. Letnan Tukiyat akan digeser dari pertigaan Masjid An-Nur hingga Jembatan Gending, (rumah saya berada di ruas jalan ini, yang dulunya masih menggunakan Jalan Mayor Unus sebelum tahun 2012), selanjutnya Jembatan Gending hingga ke Tanjung menjadi Jl. Mayor Unus, sedangkan jalan antara pertigaan Blondo hingga persimpangan Sawitan berubah nama menjadi Jl. Soekarno-Hatta. Untuk ruas jalan antara persimpangan Sawitan hingga Salaman menjadi Jl. Jend. Soedirman, pertigaan Karet hingga persimpangan Pabelan menjadi Jl. Mayor Kusen, sedangkan dari pertigaan Karet hingga kompleks Wisata Candi Borobudur diberi nama Jalan Raya Borobudur.

Ekonomi dan Transportasi
Perekonomian di Kota Mungkid tidak begitu pesat, saya akui itu. Hal ini terlihat bahwa tidak adanya pasar di pusat kota dan tidak begitu banyak pertokoan apalagi mall, paling tidak hanya sebatas supermarket atau minimarket saja. Tidak seperti di Kota Magelang dan kecamatan Muntilan, yang terkenal memiliki pusat perdagangan seperti pasar umum dan pertokoan pecinan. Memang, ritme perkembangan Kota Mungkid yang masih berjalan lambat ini diakibatkan karena pusat pemerintahan kabupaten itu tidak didesain sebagai kawasan keramaian tetapi menyediakan layanan kepada masyarakat agar sejahtera, asri, dan nyaman. Kota Mungkid juga belum memiliki Terminal bis, seperti layaknya ibu kota Kabupaten lain seperti Purwokerto, Slawi, dan Purwodadi. Bis-bis yang menuju ke Kota Mungkid, selama ini berhenti di Terminal Bis Borobudur.

Jasa drh. Soepardi

Andai drh Soepardi masih hidup, tentu Beliau akan bangga melihat perubahan wajah desa-desa yang sekarang menjadi komponen pembentuk Kota Mungkid. Ismail Saleh, mantan menteri kehakiman pada masa Orde Baru, tentu tidak berani berseloroh lagi seperti dulu, Kota kok (isinya) sawah semua!. Berkat perjuangan drh. Soepardi, yang ketika itu menjabat sebagai bupati Kabupaten Magelang, ibu kota kabupaten dapat dipindah ke Kota Mungkid. Drh. Soepardi memang tidak sempat menyaksikan proses pemindahan dan peresmiannya, karena Tuhan memanggilnya pada 16 Agustus 1983, atau tujuh bulan sebelum momen bersejarah tersebut terjadi. Namun semangat untuk membangun dan memajukan daerahnya bisa menginspirasi para generasi muda Kota Mungkid, juga bagi masyarakat di kabupaten Magelang untuk semakin memajukan dan menggeliatkan perekonomian Kabupaten Magelang, dengan pembangunan yang terstruktur dan tepat guna. Apalagi Kota Mungkid dan beberapa wilayah lain di daerah ini masih memerlukan banyak sentuhan fisik. Sampai saat ini Kota Mungkid memang belum bisa menjadi ibu kota kabupaten yang komplit. Masih banyak fasilitas kota yang belum dimiliki, seperti ruang publik bernama alun-alun (hanya ada Lap. Drh. Soepardi, yang kami anggap sebagai alun-alun), stadion, pasar, terminal, pusat hiburan, dan lain-lain. Jangan-kan pasar modern, sekadar pasar tradisional pun Kota Mungkid belum memilikinya. Paling hanya beberapa supermarket kecil dan toko sembako modern. Sedangkan pasar tradisional dimiliki oleh kecamatan sebelah, seperti Pasar Sraten dan borobudur. Namun, kini di Kota Mungkid sudah lumayan. Jalan Utama yaitu Jalan Letnan Tukiyat tampak bersih dan indah layak seperti sebuah kota sungguhan. Banyak pohon palem yang menghiasi sepanjang jalan utama Kota Mungkid. Berderet-deret nampak indah dan rapi. Deretan kembang bougenville dan aster. Bahkan ada sebuah SPBU, Museum H Widayat, Kolam renang Karet (yang merupakan kolam renang terbesar di Kabupaten Magelang), Masjid Agung An-Nuur, dan Vihara. Tak ada mall dan plaza, kecuali beberapa supermarket kecil, warung kelontong, warung makan, dan kios fotokopi. Jalan protokol pun hanya 3, yaitu Jl. Letnan Tukiyat, Jl. Mayor Unus dan Jl. Mayor Kusen.

Patung Bung Karno dan Bung Hatta yang terletak di pertigaan Karet, gerbang utama menuju Kota Mungkid. Patung ini belum bisa menjadi simbol Kota Mungkid untuk bisa moncer.

Patung Bung Karno dan Bung Hatta yang terletak di pertigaan Karet, gerbang utama menuju Kota Mungkid. Patung ini belum bisa menjadi simbol Kota Mungkid untuk bisa moncer.

Suasana kota hanya hidup selama jam kantor hingga sore hari saja. Setelah itu sunyi dan malamnya sangat senyap. Kecuali jika ada pertunjukan konser musik maupun pagelaran  wayang kulit di Lap. drh. Soepardi. Akan tetapi keadaan akan sangat berbeda apabila musim mudik lebaran tiba, kota ini baru terlihat ramai dan padat. Karena kota ini dijadikan sebagai jalur alternatif menuju Purworejo, Yogyakarta, Semarang dan Temanggung. Selain itu, saat musim liburan para wisatawan yang menuju Candi Borobudur pasti melewati kota ini. Sehingga sering menimbulkan kemacetan sepanjang jalan-jalan di Kota Mungkid
Sembilan tahun lalu, ketika masih menjabat sebagai bupati, Drs. H. Hasyim Afandi pernah bercanda dengan koleganya dari Jakarta. “Seandainya Bapak pernah datang ke kota ini 20 tahun silam, pasti tidak akan tersesat. Karena jalannya ya masih ini saja (Jl Letnan Tukiyat)”, kata Pak Hasyim.

Fakta ini jauh berbeda dari Kota Kajen, ibu kota Kabupaten Pekalongan. Meski usianya baru sebelas tahun, perkembangan Kota Kajen terlihat sangat pesat. Berbagai fasilitas yang tak dimiliki Mungkid bisa dijumpai di Kajen, termasuk rumah sakit umum. Wajar jika muncul anggapan dari sebagian elemen masyarakat, bahwa perkembangan kota ini berjalan lamban.

Dalam berbagai kesempatan, Bupati Magelang Ir. Singgih Sanyoto juga tak menampik anggapan masyarakat seperti itu. Tetapi hal ini justru menjadi blessing in disguise (berkah terselubung), sebagaimana dikemukakan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) setempat, Drs H Chairiel Wasthonny MSi.

Menurut Pak Wasthonny, ada sedikit persoalan tentang Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTK) pada masa lalu -baik menyangkut rencana tata guna tanah maupun rencana bagian wilayah kota dan pusat lingkungan. Ini perlu diluruskan atau disempurnakan sebelum dilaksanakan.

Kalah Pamor

Terlepas dari persoalan itu, ada masalah lain yang membelit Kota Mungkid. Sampai sejauh ini, tatkala usianya sudah memasuki 29 tahun, kota ini masih kalah pamor dari wilayah lain di Kabupaten Magelang. Misalnya Secang, Muntilan, dan Mertoyudan.

Cobalah bertanya kepada penduduk di luar daerah Kedu, sebagian besar pasti mengaku asing dengan Kota Mungkid. Mereka justru lebih mengenal Blabak sebagai Mungkid yang sebetulnya Blabak adalah pusat kecamatan Mungkid di jalur utama Magelang-Yogyakarta.

Mereka justru lebih mengenal Mendut, yang sebenarnya merupakan salah satu dari tiga kelurahan/desa pembentuk Kota Mungkid. Selain Mendut, Kota Mungkid juga membawahi Kelurahan Sawitan. Keduanya berada di Kecamatan Mungkid, serta Desa Deyangan di Kecamatan Mertoyudan.

Penduduk kabupaten yang ingin mengurus surat-surat ke kantor Pemkab pun biasanya akan menjawab mau pergi ke Sawitan atau menyebut Kabupaten saja ketimbang ke Kota Mungkid atau paling tidak hanya menyebut Mungkid saja (di kelurahan Blabak). Usai pemindahan ibu kota, seluruh kantor pemerintahan memang dipusatkan di Kelurahan Sawitan, Kota Mungkid. Tinggal dua kantor saja yang masih tertinggal di wilayah Kota Magelang yaitu Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil serta Dinas Tenaga Kerja.

Ya, kami memang perlu mencari jatidiri Kota Mungkid agar dapat lebih dikenal masyarakat. Upaya ini sekaligus bisa membangun kebanggaan warga Kota Mungkid khususnya dan masyarakat kabupaten pada umumnya. Mencari jatidiri hakikatnya adalah menciptakan brand image mengenai Kota Mungkid. Muntilan dikenal orang karena punya kekhasan memiliki tape ketan dan patung batu. Mertoyudan dikenal sebagai pusat perdagangan dan industri karoseri, termasuk New Armada yang termasuk karoseri papan atas di Indonesia dan sekarang sudah memiliki sebuah mall besar di Kedu yang diberi nama Armada Town Square (ARTOS). Sedangkan Secang populer karena keberadaan pabrik pemintalan, berada di persimpangan jalan provinsi menuju Semarang, Temanggung dan Magelang serta letak terminalnya yang memang strategis. Jangan tanya soal Borobudur, karena kawasan ini sudah kondang di mancanegara, melalui keberadaan candinya. Kekhasan inilah yang belum dimiliki Kota Mungkid. Tetenger kota ini pun tidak terlihat di pertigaan jalan raya Magelang-Yogyakarta. Tugu di pertigaan tersebut tidak bisa dijadikan petunjuk bagi pengguna jalan. Harusnya dipasang gapura atau plang besar yang bertuliskan jalan menuju KOTA MUNGKID pada setiap persimpangan jalan menuju Kota Mungkid misalnya di pertigaan Tanjunganom, di pertigaan Pabelan dan juga di pertigaan Blondo.

Sebagai warga Kota Mungkid, saya hanya bisa berharap, semoga nanti, generasi saya akan dapat bisa membalas jasa-jasa tanah kelahiran kami, dengan cara mengabdikan diri dan membanggakan namanya. :D

dari berbagai sumber